Tampilkan postingan dengan label Sabar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sabar. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Mei 2010

Sabar itu milik manusia bukan hewan

dikutip dari milis sahabat muslim

 

Sabar itu kepunyaan manusia bukan hewan

“...Dan para malaikat masuk kepada tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan); keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d [13]:23-24)


Sabar termasuk akhlak yang paling utama yang banyak mendapat perhatian Al-Qur’an dalam surat-suratnya. Imam al-Ghazali berkata, “Allah swt menyebutkan sabar di dalam al-Qur’an lebih dari 70 tempat.”
Ibnul Qoyyim mengutip perkataan Imam Ahmad: “Sabar di dalam al-Qur’an terdapat di sekitar 90 tempat.”
Abu Thalib al-Makky mengutip sebagian perkataan sebagian ulama: “Adakah yang lebih utama daripada sabar, Allah telah menyebutkannya di dalam kitab-Nya lebih dari 90 tempat. Kami tidak mengetahui sesuatu yang disebutkan Allah sebanyak ini kecuali sabar.”

Sabar menurut bahasa berarti menahan dan mengekang. Di antaranya disebutkan pada QS.Al-Kahfi [18]: 28 “Dan tahanlah dirimu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan di senja hari dengan mengharap keridhaanNya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka.”

Kebalikan sabar adalah jaza’u (sedih dan keluh kesah), sebagaimana di dalam firman Allah QS. Ibrahim [14]: 21, “...sama saja bagi kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.”
Macam-macam Sabar Dalam al-Qur’an

Aspek kesabaran sangat luas, lebih luas dari apa yang selama ini dipahami oleh orang mengenai kata sabar. Imam al-Ghazali berkata, “Bahwa sabar itu ada dua; pertama bersifat badani (fisik), seperti menanggung beban dengan badan, berupa pukulan yang berat atau sakit yang kronis. Yang kedua adalah al-shabru al-Nafsi (kesabaran moral) dari syahwat-syahwat naluri dan tuntutan-tuntutan hawa nafsu.

Bentuk kesabaran ini (non fisik) beraneka macam;
Jika berbentuk sabar (menahan) dari syahwat perut dan kemaluan disebut iffah
Jika di dalam musibah, secara singkat disebut sabar, kebalikannya adalah keluh kesah.
Jika sabar di dalam kondisi serba berkucukupan disebut mengendalikan nafsu, kebalikannya adalah kondisi yang disebut sombong (al-bathr)
Jika sabar di dalam peperangan dan pertempuran disebut syaja’ah (berani), kebalikannya adalah al-jubnu (pengecut
Jika sabar di dalam mengekang kemarahan disebut lemah lembut (al-hilmu), kebalikannya adalah tadzammur (emosional)
Jika sabar dalam menyimpan perkataan disebut katum (penyimpan rahasia)
Jika sabar dari kelebihan disebut zuhud, kebalikannya adalah al-hirshu (serakah)

Kebanyakan akhlak keimanan masuk ke dalam sabar, ketika pada suatu hari Rasulullah saw ditanya tentang iman, beliau menjawab: Iman aadalah sabar. Sebab kesabaran merupakan pelaksanaan keimanan yang paling banyak dan paling penting. “Dan orang-orang yang sabar dalam musibah, penderitaan dan dalam peperangan mereka itulah orang-orang yang benar imannya, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Baqarah [2]: 177)

Dari itu kita dapat memahami mengapa al-Qur’an menjadikan masalah sabar sebagai kebahagiaan di akhirat, tiket masuk ke surga dan sarana untuk mendapatkan sambutan para malaikat. Dalam surat Al-Insan [72]: 12 “Dan Dia memberi balasan kepada mereka atas kesabaran mereka dengan surga dan (pakaian) sutera”. Dalam surat Ar-Ra’d [13]:23-24 “...Dan para malaikat masuk kepada tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan); keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”

Sabar, Suatu Kekhasan Manusia
Sabar adalah kekhasan manusia, sesuatu yang tidak terdapat di dalam binatang sebagai faktor kekurangannya, dan di dalam malaikat sebagai faktor kesempurnaannya.

Binatang telah dikuasai penuh oleh syahwat. Karena itu, satu-satunya pembangkit gerak dan diamnya hanyalah syahwat. Juga tidak memiliki “kekuatan” untuk melawan syahwat dan menolak tuntutannya, sehingga kekuatan menolak tersebut bisa disebut sabar.
Sebaliknya, malaikat dibersihkan dari syahwat sehingga selalu cenderung kepada kesucian ilahi dan mendekat kepada-Nya. Karena itu tidak memerlukan “kekuatan” yang berfungsi melawan setiap kecenderungan kepada arah yang tidak sesuai dengan kesucian tersebut.

Tetapi manusia adalah makhluk yang dicipta dalam suatu proses perkembangan; merupakan makhluk yang berakal, mukallaf (dibebani) dan diberi cobaan, maka sabar adalah “kekuatan” yang diperlukan untuk melawan “kekuatan” yang lainnya. Sehingga terjadilah “pertempuran” antara yang baik dengan yang buruk. Yang baik dapat juga disebut dorongan keagamaan dan yang buruk disebut dorongan syahwat.

Pentingnya Kesabaran
Agama tidak akan tegak, dan dunia tidak akan bangkit kecuali dengan sabar. Sabar adalah kebutuhan duniawi keagamaan. Tidak akan tercapai kemenangan di dunia dan kebahagaiaan di akhirat kecuali dengan sabar.
Al-Qur’an telah mengisyaratkan pentingnya kesabaran ini. Ketika mengyinggung masalah penciptaan manusia dan cobaan penderitaan yang akan dihadapinya. Dalam surat Al-Insaan [76]: 2 “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang tercampur yang Kami hendak mengujinya )dengan perintah dan larangan)”.

Pentingnya Kesabaran Bagi Orang Beriman.
Sudah menjadi sunnatulah bahwa kaum muslimin harus berhadapan dengan para musuhnya yang jahat yang membuat makar dan tipu daya. Seperti Allah menciptakan Iblis untuk Adam; Namrud untuk Ibrahim; Fir’aun untuk Musa dan Abu Jahal untuk Muhammad saw.
Dalam Surat al-Ankabut [29]]: 1-3 “Ali Laam Miim. Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan; kami telah beriman, padahal mereka belum diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta.” ##

emang sabar ada batasnya? nggak yakin dech

kutipan dari milis tetangga





Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". [QS Al Baqarah(2) : 155-156]

Rasulullah sendiri bersabda mengenai sabar : “Sabar itu ada tiga : sabar akan musibah, sabar atas taat, dan sabar dari maksiat”

Sabar, .. sabar, … sabar, …. Mudah di katakan, tapi sulit dilaksanakan

Seseorang sering memberi advise ke teman/saudaranya agar bersabar tetapi belum tentu dia sendiri bisa sabar. Sampai ada ungkapan umum “Sesabar-sabarnya manusia, pasti ada batasnya”

Betulkah ungkapan umum tersebut ?

Bila di jawab ya, dimana batas kesabaran (titik puncak kesabaran) itu. Dan kesabaran terebut akan hilang

Tetapi sesungguhnya , tidak ada seorangpun yang sanggup membatasi titik puncak kesabaran tersebut. Yang bisa hanyalah kesabaran saya dengan kesabaran orang lain berbeda

Menurut Imam Ali bin Abi Thalib, kesabaran ada dua macam, yakni sabar atas hal-hal yang dibenci dan sabar atas hal-hal yang dicintai.

Segala hal tentang kehidupan didunia ini bersandar atas kesabaran. Induk ayam tidak akan dapat menetaskan telurnya kecuali setelah melewati waktu tertentu, dalam hal ini dibutuhkan kesabaran dalam mengerami telur-telurnya. Seorang murid tidak akan mencapai derajat tertinggi dalam ilmu pengetahuan, kecuali setelah bersabar selama bertahun-tahun dalam belajar. Seorang sopir/pilot tidak akan sampai ditujuan, kecuali bersabar dalam menjalankan/menerbangkan kendaraan selama waktu yang diperlukan.

Contoh tentang sabar dengan hal-hal dicintai adalah mencintai kedua orang tua. Menjadi kewajiban sang anak untuk sabar dalam mencintai orang tua dan tetap memelihara kecintaan itu. Contoh lain adalah mencintai anak. Sebagai orang tua, anda harus bersabar dalam mencintai mereka, dan menanggung kesulitan-kesulitan dalam mendidik mereka.

Contoh tentang sabar dengan hal-hal yang dibenci, yakni seperti tertimpa musibah / penyakit, yang tentunya tidak anda sukai. Dalam hal ini, anda wajib bersabar atas musibah yang menimpa, sehingga Allah akan memudahkan urusan anda.

Kaidah sabar : “ Orang yang tidak sabar merasa sedetik bagai setahun, sedangkan orang yang sabar merasa setahun bagai sedetik.

Imam Ali bin Ali Thalib berkata :
“Kedudukan sabar di dalam iman seperti kedudukan kepala di dalam tubuh. Jika kepala berpisah dari tubuh, maka rusaklah tubuh. Jika Sabar berpisah dari urusan, maka rusaklah urusan”

Beliau juga berkata, “Barang siapa membuang kesabaran, maka kecemasan akan menghancurkannya”

Jadi :
Hidup berhiaskan sabar, sebab hal ini akan menguntungkan diri anda sendiri, sehingga akan baik terhadap sesama manusia dan terlebih lagi dihadapan Allah.

(mulai baris berikut please rada serius merhatiinnya...mulai mendapatkan intisari soalnya)

Selain itu , kita harus TAHU dan SADAR bahwa kesabaran akan mendapatkan perlawanan. Lawan kesabaran akan merusak kehidupan kita (manakala kita memihak mereka (lawan kesabaran)),

Salah satu lawan dari kesabaran adalah MARAH. Kapan hal itu akan terjadi ? Terjadinya MARAH adalah “SAAT BATAS TERAKHIR dari puncak KESABARAN terlampaui”. Kesabaran HILANG dan berubah menjadi Kemarahan. Semua kesabaran yang kita punyai menjadi RUSAK semuanya. Hubungan KAWAN berbalik menjadi LAWAN. Hubungan Orang Tua dan Anak menjadi rusak, Anak mengalami tekanan psikis akibat perlakuan keras dan kasar yang diberikan oleh orang tua

Oleh karena itu pilihlah sekarang :
1. Menghentikan kesabaran untuk memasuki kemarahan, atau
2. Menjaga kesabaran, sehingga hal-hal yang merusak tidak akan terjadi.

Lawan kesabaran yang lain adalah TERGESA-GESA. Lihatlah betapa banyak mengandung celaka akibat tergesa-gesa, dan betapa indahnya kesabaran. Jika kita memilih tergesa-gesa, usaha yang kita rencanakan menjadi kacau, peluang usaha menjadi hancur, semua langkah menjadi berantakan.

Maka pilihlah sekarang:
1. Menghentikan kesabaran untuk melampiaskan ketergesa-gesaan , atau
2. Menjaga kesabaran.

Lawan kesabaran selain yang diatas adalah NEKAT. Jika seseorang sudah tidak dapat lagi menahan kesabaran, maka dia bisa melakukan tindakan yang dapat membahayakan siapa saja. Banyak kasus pembunuhan terjadi karena hilangnya kesabaran. Dan betapa kehilangan rasa sabar bisa menyebabkan nyawa seseorang melayang

Sungguh agung dan dahsyat firman Allah dalam Al Quran berikut ini :
“ Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar ". [QS Al Baqarah(2) : 153]

Dari ayat tersebut, bila kita membutuhkan pertolongan atau menghadapai masalah apapun, maka jadikan Sabar dan Shalat sebagai penolong

Ayat lain :
“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar .“ [QS Al Anfaal (8) : 66].
Atau dengan kata lain, ketika kita SEHAT, maka gunakan kesehatan kita untuk beribadah. Sebab pahala akan didapat dari ibadah yang kita lakukan. Di saat kita sakit, terimalah sakit sebagai sarana ataucara untuk mengurangi dan menghapus dosa-dosa kita. Karena pada saat sakit kita tidak dapat memungkinkan untuk berbuat banyak dalam ber ibadah. Dalam keadaaan sakit memungkinkan kita me”nafakur”I diri atas dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat.

Itulah kecerdasan Islam yang diajarkan kepada pemeluknya. Salah satu perwujudan dalam memandang dan menilai sakit di samping sehat. Memang sakit adalah sakit, dan setiap sakit adalah penderitaan terhadap tubuh. Akan tetapi, Islam memandang bahwa dalam sakit ada nilai yang tengah ditawarkan ALLAH kepada kita, yakni nilai penghapusan dosa dan kesalahan. Oleh karena itu sakit membutuhkan kesabaran , juga orang yang merawatnya juga memerlukan kesabaran. Agar kesabaran menjadi penolong bagi si penderita sakit itu sendiri.

Dan nilai penghapusan dosa dan kesalahan, tidak akan didapat manakala kita tidak mau secara ihklas menerima sakit yang kita derita. Menerima secara ikhlas bukan berarti bahwa kita membiarkan dalam keadaan sakit melulu. Tidak, sekali lagi tidak, bukan demikian pengertiannya. Terhadap keadaan yang sakit , kita berikhtiar untuk mencari kesembuhan. Selain itu, berkeyakinan bahwa kita akan sembuh. Dengan kata lain, keyakinan akan sembiuh dari penyakit mendorong kita segera sembuh dari penyakit tersebut.

Ikhlas menerima sakit berarti yakin bahwa sakit tersebut merupakan ujian yang diberikan ALLAH. Perwujudannya adalah beristighfar kepada ALLAH, dan JANGAN MENGUTUK penyakit yang sedang kita derita.

Di dalam ke ikhlasan ada kesabaran. Kesabaran yang disandarkan kepada ALLAH mendatangkan keikhlasan akan kehendak-hendaknya terhadap diri kita. Memang mudah diucapkan, tetapi sudah dijalankan rasa ikhlas dan kesabaran itu, terlebih lagi ketika kita sering kali berhadapan pada ujian dan cobaan hidup, beban dan kesulitan hidup. Tetapi, disinilah letak RAHASIA SABAR itu. Di saat kita menghadapai situasi yang benar-benar membelenggu, benar-benar menyulitkan, atau benar-benar memiliki masalah yang sangat berat, maka disaat itulah kita di UJI dengan kesabaran, yakni apakah kita BISA SABAR atau tidak.

Begitulah kesabaran.
Dalam situasi yang amat sulit, ibaratnya kita berada ditengah-tengah jalan pendakian menuju puncak gunung. Kita berhenti sejenak . kita berpikir, meneruskan mendaki atau turun, kalo terus mendaki akan sampai puncak, kalo turun kita tidak sampai disana

Begitulah kesabaran.
Kesabaran adalah kendaraan kita untuk mengarungi samudrakesulitan dan penderitaan yang telah kita rasakan sekarang, agar kita sampai kepuncak kesenangan dan kebahagiaan.

………………….

Referensi :
“Berguru kepada Muhammad”, oleh Muhammad Muhyidin,Darul Hikmah, 2008

recent visitor

table> widgets