Tampilkan postingan dengan label tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tauhid. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Mei 2010

Tauhid (2)


TAUHID (2)
(dilihat dari sudut pandang lain)

ALLAH BERSERU KEPADA HAMBA-NYA, "WAHAI HAMBA! ENGKAU TIADA MEMILIKI SESUATU PUN KECUALI APA YANG AKU KEHENDAKI UNTUK MENJADI MILIKMU. TIADA JUGA ENGKAU MEMILIKI DIRIMU, KARENA AKU-LAH MAHA PENCIPTANYA. TIADA PULA ENGKAU MEMILIKI JASADMU, MAKA AKU-LAH YANG MEMBENTUKNYA. HANYA DENGAN PERTOLONGAN-KU ENGKAU DAPAT BERDIRI, DAN DENGAN KALIMAT-KU ENGKAU DATANG KE DUNIA INI."


"WAHAI HAMBA! KATAKANLAH TIADA TUHAN MELAINKAN ALLAH, KEMUDIAN TEGAKLAH BERDIRI DI JALAN YANG BENAR, MAKA TIADA TUHAN MELAINKAN AKU, DAN TIADA PULA WUJUD YANG SEBENAR- BENARNYA WUJUD KECUALI UNTUK-KU, DAN SEGALA YANG SELAIN DARI PADA-KU ADALAH DARI BUAH TANGAN-KU DAN DARI TIUPAN ROH-KU."


"WAHAI HAMBA! SEGALA SESUATU ADALAH KEPUNYAAN-KU, BAGI-KU DAN UNTUK-KU. JANGAN SEKALI- KALI ENGKAU MEREBUT APA YANG MENJADI KEPUNYAAN-KU, NISCAYA AKAN KUBUAHKAN PENGEMBALIANMU DENGAN TANGAN-KU DAN KU-TAMBAH PADANYA DENGAN KEMURAHAN-KU, NISCAYA KU-SELAMATKAN ENGKAU DARI SEGALA SESUATU."
(HADITS QUDSY)


Dia adalah yang nyata dan bukan dinyatakan (Adh- Dhahir Walaisa Al- Madhahir). Sangat jauh sekali bedanya antara Yang Nyata dan yang dinyatakan. Yang Nyata tidak terkurung, tidak terbatas, tiada dinding, bebas lepas, maka Dia pun bertajalli dengan Sifat- Sifat-Nya, bertajalli dengan Asma- Asma-Nya, yang tidak dapat dihitung dan diperhitungkan.

Adapun yang dinyatakan itu merupakan kesatuan- kesatuan yang bermacam- macam pecahan, bagian- bagian, dan dibatasi dalam lingkup bingkai- bingkai yang berlain- lainan, maka yang bertajalli di balik kesemuanya ini adalah Hukum- Hukum- Nya, Nama- Nama- Nya, dan semua sifat- Sifat Ketuhanan. Karena itu, agama Allah (Islam) menggariskan pengertian bahwa hanya Dialah Yang Lahir dan Yang Bathin (HUWA DHAHIR WAL BATHIN). Yang Lahir adalah pekerjaan-Nya dan Yang Bathin adalah Dzat-Nya, dan tidaklah kami katakan bahwa "DIA" adalah yang dinyatakan.

Dan sangat kelirulah anggapan bahwa Allah itu adalah himpunan antara Yang Nyata dengan apa yang dinyatakan, karena itu sama saja dengan mengurung Tuhan dalam segala bentuk gambar- gambar yang bersifat benda di alam semesta, dan jelas yang demikian adalah mustahil bagi- Nya.

Mustahil Allah dapat dikurung oleh segala yang terjangkau oleh penglihatan mata, dan mustahil pula jika Allah itu dapat dihitung dengan bilangan- bilangan.

Dan apabila terdengar dari lisan seorang Sufi Muslim yang mengatakan bahwa dia melihat Allah (Ru'yatullah), maka yang dimaksud bukanlah penglihatan mata yang ada di kelopak matanya, melainkan penglihatan akal yang ada di hati nuraninya. Penglihatan rasa, perasaan terhadap hadirat Ilahiat, perasaan rindu yang merana, kecintaan yang lekat tiada daya untuk merentangnya, dan tidaklah kami sanggup untuk menguraikannya dengan kata- kata dan ibarat... Sekalipun rasa yang demikian menjalar ke seluruh tubuh dari mercu buana (ubun- ubun), hingga ke telapak tumit. Penglihatan hikmat kebijaksanaan yang amat tinggi dari aneka ragam gerak- gerik peristiwa.

Tauhid



TAUHID

 

Tauhid berasal dari kata wahhada-yuwahhidu-tauhiidan : memiliki arti mengesakan Allah SWT. karena agama Islam berlandaskan kalimat tauhid " laa ilaaha illallah-tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah" maka dengan sendirinya orang yang mengucapkan kalimat tersebut kemudian meyakini dalam hati ia disebut telah bertauhid.dengan kata lain
tauhid adalah konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan keesaan Allah.
Tauhid dibagi menjadi 3 macam yakni tauhid rububiyah, uluhiyah dan Asma wa Sifat. Mengamalkan tauhid dan menjauhi syirik merupakan konsekuensi dari kalimat sahadat yang telah diikrarkan oleh seorang muslim.


Kedudukan Tauhid dalam Islam


Seorang muslim meyakini bahwa tauhid adalah dasar Islam yang paling agung dan hakikat Islam yang paling besar, dan merupakan salah satu syarat merupakan syarat diterimanya amal perbuatan disamping harus sesuai dengan tuntunan rasulullah.

Dalil Al Qur'an Tentang Keutamaan & Keagungan Tauhid 


Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman: "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu" (QS An Nahl: 36)

"Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan" (QS At Taubah: 31)

"Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)" (QS Az Zumar: 2-3)

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus" (QS Al Bayinah: 5)

Pembagian Tauhid
 

1. Rububiyah
Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta. Sebagaimana terdapat dalam Al Quran surat Az Zumar ayat 62 :"Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu".

Hal yang seperti ini diakui oleh seluruh manusia, tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. Orang-orang yang mengingkari hal ini, seperti kaum atheis, pada kenyataannya mereka menampakkan keingkarannya hanya karena kesombongan mereka. Padahal, jauh di dalam lubuk hati mereka, mereka mengakui bahwa tidaklah alam semesta ini terjadi kecuali ada yang membuat dan mengaturnya. Mereka hanyalah membohongi kata hati mereka sendiri. Hal ini sebagaimana firman Alloh “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).“ (Ath-Thur: 35-36)

Namun pengakuan seseorang terhadap Tauhid Rububiyah ini tidaklah menjadikan seseorang beragama Islam karena sesungguhnya orang-orang musyrikin Quraisy yang diperangi Rosululloh mengakui dan meyakini jenis tauhid ini. Sebagaimana firman Alloh, “Katakanlah: ‘Siapakah Yang memiliki langit yang tujuh dan Yang memiliki ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Alloh.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak bertakwa?’ Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari -Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Alloh.’ Katakanlah: ‘Maka dari jalan manakah kamu ditipu?’” (Al-Mu’minun: 86-89).

2. Uluhiyah/Ibadah
Beriman bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagiNya. "Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana" (Al Imran : 18).
Beriman terhadap uluhiyah Allah merupakan konsekuensi dari keimanan terhadap rububiyahNya. Mengesakan Alloh dalam segala macam ibadah yang kita lakukan. Seperti shalat, doa, nadzar, menyembelih, tawakkal, taubat, harap, cinta, takut dan berbagai macam ibadah lainnya. Dimana kita harus memaksudkan tujuan dari kesemua ibadah itu hanya kepada Alloh semata. Tauhid inilah yang merupakan inti dakwah para rosul dan merupakan tauhid yang diingkari oleh kaum musyrikin Quraisy.

Hal ini sebagaimana yang difirmankan Alloh mengenai perkataan mereka itu “Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu Sesembahan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (Shaad: 5).
Dalam ayat ini kaum musyrikin Quraisy mengingkari jika tujuan dari berbagai macam ibadah hanya ditujukan untuk Alloh semata. Oleh karena pengingkaran inilah maka mereka dikafirkan oleh Alloh dan Rosul-Nya walaupun mereka mengakui bahwa Alloh adalah satu-satunya Pencipta alam semesta.

3. Asma wa Sifat
Beriman bahwa Allah memiliki nama dan sifat baik (asma'ul husna) yang sesuai dengan keagunganNya. Umat Islam mengenal 99 asma'ul husna yang merupakan nama sekaligus sifat Allah.
Al Israa (QS 7): 110. Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula

Tidak ada Tauhid Mulkiyah
Tauhid itu ada tiga macam, seperti yang tersebut di atas dan tidak ada istilah Tauhid Mulkiyah ataupun Tauhid Hakimiyah karena istilah ini adalah istilah yang baru. Apabila yang dimaksud dengan Hakimiyah itu adalah kekuasaan Allah Azza wa Jalla, maka hal ini sudah masuk ke dalam kandungan Tauhid Rububiyah. Apabila yang dikehendaki dengan hal ini adalah pelaksanaan hukum Allah di muka bumi, maka hal ini sudah masuk ke dalam Tauhid Uluhiyah, karena hukum itu milik Allah Subhanahu wa Ta'ala dan tidak boleh kita beribadah melainkan hanya kepada Allah semata. Lihatlah firman Allah pada surat Yusuf ayat 40.
[Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas]

http://id.wikipedia.org/wiki/Tauhid

recent visitor

table> widgets